Selasa, 29 Oktober 2019

Menteri Baru, Persoalan Baru?

Pelantikan para menteri oleh Presiden Joko Widodo merukan awal kerja baru dan sekaligus diikuti oleh persoalan baru.

Sabtu, 13 April 2013

Gurindam 12


MAKNA SETIAP PASAL GURINDAM 12
Karya: Raja Ali Haji

Pasal Pertama (1) Gurindam 12

“ Memberi nasihat tentang agama (religius) ”
Barang siapa tiada memegang agama
Sekali-kali tiada boleh dibilang nama
·       Maksudnya adalah setiap manusia harus memiliki agama karena agama sangat penting bagi kehidupan manusia, orang yang tidak mempunyai agama akan buta arah menjalankan hidupnya.
Barang siapa mengenal yang empat
Maka yaitulah orang yang ma’rifat
  •  Untuk mencapai kesempurnaan didalam menjalani hidup, manusia harus mengenal empat zat yang menjadikan manusia mula-mula. 4 tersebut adalah syari’at, tarikat, hakikat dan makrifat.
Barang siapa mengenal Allah SWT
Suruh dan tegaknya tiada ia menyalah
  • Orang yang mengenal Allah SWT, harus melakukan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, tidak akan melanggar aturannya
Barang siapa mengenal diri
Maka telah mengenal akan Tuhan yang bahri
  • Orang yang tidak beragama tidak akan memiliki identitas diri dan tidak akan dekat dengan Allah SWT.
Barang siapa mengenal dunia
Tahulah ia barang yang terpedaya
  • Kita dapat mengetahui kebesaran Allah lewat manusia, makhluk ciptaan-Nya yang paling sempurna. Manusia yang berorientasi pada kebahagiaan atau hanya mencari kebahagiaan di dunia saja, sebenarnya ia akan tertipu dan menyadarinya bahwa di dunia itu hanya sesaat
Barang siapa mengenal akhirat
Tahulah ia dunia mudharat
  • Di dunia ini kita hanya hidup sesaat, setelah kita wafat setiap manusia akan dimintakan pertanggung jawabannya di akhirat nanti.

Pasal Kedua (2) Gurindam 12

 menceritakan tentang orang – orang yang meninggalkan Sembahyang, Puasa, Zakat, dan Haji beserta akibatnya
Barang siapa mengenal yang tersebut
Tahulah ia makna takut
  • Semakin seorang dekat dan mengetahui tentang agamanya pasti manusia tersebut akan takut dan orang tersebut harus menjalani Perintah-perintah-Nya dan wajib kita laksanakan
Barang siapa meninggalkan sembahyang
Seperti rumah tiada bertiang
  • Orang yang tidak sembahyang bagaikan rumah yang tidak mempunyai tiang, shalat merupakan pegangan hidup.
Barang siapa meninggalkan puasa
Tidaklah mendapat dua termasa
  • Orang yang meninggalkan ibadah puasa akan kehilangan dunia dan akhirat, berarti Allah tidak akan menjaga orang itu.
Barang siapa meninggalkan zakat
Tiadalah hartanya beroleh berkat
  • Harta dari orang yang tidak membayar zakat tidak diridhai oleh Allah. Itupun jika di dunia hidupnya senang apabila tidak memberikan sebagian harta nya maka, hidupnya tidak akan terasa senang.
Barang siapa meninggalkan haji
Tiadalah ia menyempurnakan janji
  • Orang yang tidak naik haji (apalagi jika ia mampu) tidak menyempurnakan janjinya sebagai orang Islam.

Pasal Ketiga (3) Gurindam 12

 tentang budi pekerti, yaitu menahan kata-kata yang tidak perlu dan makan seperlunya 
Apabila terpelihara mata
Sedikitlah cita-cita
  • Mata harus di pergunakan sebaik-baiknya jangan sampai kita meliahat apa yang dilarang oleh allah swt
Apabila terpelihara kuping
Khabar yang jahat tiadalah damping
  • Telinga harus dijauhkan dari segala macam bentuk gunjingan dan hasutan
Apabila terpelihara lidah
Niscaya dapat daripadanya faedah
  • Orang yang menjaga omongannya akan mendapatkan manfaat.
Bersungguh-sungguh engkau memeliharakan tangan
Daripada segala berat dan ringan
  • Jangan mengambil barang yang bukan hak kita
Apabila perut terlalu penuh
Keluarlah fi’il yang tidak senonoh
  • Nafsu harus dijaga supaya tidak melakukan perbuatan yang dilarang
Anggota tengah hendaklah ingat
Di situlah banyak orang yang hilang semangat
  • Hidup harus dijalani penuh semangat
Hendaklah peliharakan kaki
Daripada berjalan yang membawa rugi
  • Jangan merugikan diri dengan melakukan hal-hal yang mubajir dan maksiat. Melangkahlah dijalan yang benar dan di ridhoi

Pasal keempat (4) Gurindam 12

“tentang tabiat yang mulia, yang muncul dari hati (nurani) dan akal pikiran(budi) ”
Hati itu kerajaan di dalam tubuh
Jikalau zalim segala anggota tubuh pun rubuh
  • Jagalah hati dari perbuatan yang di larang oleh agama
Apabila dengki sudah bertanah
Datanglah daripadanya beberapa anak panah
  • Hati yang dengki hanya akan merugikan diri sendiri
Mengumpat dam memuji hendaklah pikir
Di situlah banyak orang yang tergelincir
  • Berbicara harus dipikir supaya tidak celaka karenanya
Pekerjaan marah jangan dibela
Nanti hilang akal di kepala
  • Amarah adalah perbuatan sia-sia, jaga lah amarah kita
Jika sedikitpun berbuat bohong
Boleh diumpamakan mulutnya itu pekung
  • Orang yang pernah berbohong, sedikit apa pun dustanya, akan terus tampak di mata orang lain
Tanda orang yang amat celaka
Aib dirinya tiada ia sangka
  • Orang yang paling celaka adalah orang yang tidak menyadari kesalahannya sendiri sampai harus dikatakan oleh orang lain
Bakhil jangan diberi singgah
Itulah perompak yang amat gagah
  • Sifat pelit akan menguras hartanya sendiri, berarti dengan menjadi dermawan justru harta kita akan bertambah
Barang siapa yang sudah besar
Janganlah kelakuannya membuat kasar
  • Jagalah setiap perbuatan kita
Barang siapa perkataan kotor
Mulutnya itu umpama ketor
  • Kelakuan dan kata-kata hendaklah selalu halus dan bersih.
Di manakah salah diri
Jika tidak orang lain yang berperi
  • Jika kita berbuat kesalahan kita harus minta maaf
Pekerjaan takbur jangan direpih
Sebelum mati didapat juga sepih
  • Jangan mengambil pekerjaan yang haram
Pasal Kelima (5) Gurindam 12

 tentang pentingnya pendidikan dan memperluas pergaulan dengan kaum terpelajar ”
Jika hendak mengenal orang berbangsa
Lihat kepada budi dan bahasa
  •  Orang yang mulia dan berbangsa dapat kita lihat dari perilaku dan tutur katanya
Jika hendak mengenal orang yang berbahagia
Sangat memeliharakan yang sia-sia
  • Orang yang bahagia adalah orang yang berhemat dan tidak melakukan perbuatan yang sia-sia
Jika hendak mengenal orang mulia
Lihatlah kepada kelakuan dia
  • Untuk mengetahui apakah orang itu mulia maka lihatlah sikapnya
Jika hendak mengenal orang yang berilmu
Bertanya dan belajar tiadalah jemu
  • Orang yang pandai tidak pernah jemu untuk belajar dan memetik pelajaran dari hidupnya di dunia
Jika hendak mengenal orang yang berakal
Di dalam dunia mengambil bekal
  • Orang yang berakal adalah orang yang teleh mempersipkan bekal waktu hidp di dunia ini
Jika hendak mengenal orang yang baik perangai
Lihat pada ketika bercampur dengan orang ramai
  • Jika ingin mengetahui sift baik dari seseorang maka lihatlah saat di bergaul dengan masyarakat
Pasal Keenam (6) Gurindam 12

 tentang pergaulan, yang menyarankan untuk mencari sahabat yang baik, demikian pula guru sejati yang dapat mengajarkan mana yang baik dan buruk ”
Cahari olehmu akan sahabat
Yang boleh dijadikan obat
  • sahabat yang setia dan dapat membantu kita
Cahari olehmu akan guru
Yang boleh tahukan tiap seteru
  • Carilah guru yang serba tahu dan tidak menyembunyikan hal-hal buruk
Cahari olehmu akan isteri
Yang boleh menyerahkan diri
  • Istri yang patut diambil adalah istri yang berbakti
Cahari olehmu akan kawan
Pilih segala orang yang setiawan
  • Carilah teman yang setia diasaat kita senang maupun susah
Cahari olehmu akan abdi
Yang ada baik sedikit budi
  • Pengikut, pembantu, budak yang baik untuk diambil adalah abdi yang berbudi.

Pasal Ketujuh (7) Gurindam 12

“ berisi nasihat agar orang tua membangun akhlak dan budi pekerti anak-anaknya sejak kecil dengan sebaik mungkin. Jika tidak, kelak orang tua yang akan repot sendiri”
Apabila banyak berkata-kata
Di situlah jalan masuk dusta
  • Orang yang banyak bicara memperbesar kemungkinan berdusta
Apabila banyak berlebih-lebihan suka
Itu tanda hampirkan duka
  • Terlalu mengharapkan sesuatu akan menimbulkan kekecewaan yang mendalam saat sesuatu itu tidak seperti yang diharapkan
Apabila kita kurang siasat
Itulah tanda pekerjaan hendak sesat
  • Setiap pekerjaan harus ada persiapannya
Apabila anak tidak dilatih
Jika besar bapanya letih
  • Anak yang tidak di didik semasa kecilnya akan menyebabkan saat anak itu sudah tumbuh dewasa akan membangkan orang tua
Apabila banyak mencacat orang
Itulah tanda dirinya kurang
  • Jangan suka menghina orang lain
Apabila orang yang banyak tidur
Sia-sia sajalah umur
  • Pergunakan lah waktu sebaik-baiknya
Apabila mendengar akan kabar
Menerimanya itu hendaklah sabar
  • Jika menerima kabar duka atau kabar yang kurang menyenangkan maka kita harus sabar dan menerima dengan lapang dada
Apabila mendengar akan aduan
Membicarakannya itu hendaklah cemburuan
  • Jangan mudah terpengaruh akan omongan orang lain
Apabila perkataan yang lemah lembut
Lekaslah segala orang mengikut
  • Perkataan yang lemah-lembut akan lebih didengar orang daripada perkataan yang kasar
Apabila perkataan yang amat kasar
Lekaslah orang sekalian gusar
  • Perkataan orang yang kasar membuat orang yang berada didekatnya resah
Apabila pekerjaan yang amat benar
Tidak boleh orang berbuat onar
  • Orang yang benar jangan disalahkan (difitnah atau dikambinghitamkan).

P asal Kedelapan (8) Gurindam 12

“ berisi nasihat agar orang tidak percaya pada orang yang culas dan tidak berprasangka buruk terhadap seseorang ”
Barang siapa khianat akan dirinya
Apalagi kepada lainnya
  • Orang yang ingkar dan aniaya terhadap dirinya sendiri tidak dapat dipercaya
Kepada dirinya ia aniaya
Orang itu jangan engkau percaya
  • jangan percaya terhadap orang yang suka menganiyaya orang lain
Lidah suka membenarkan dirinya
Daripada yang lain dapat kesalahannya
  • Jangan suka menyalahkan orang lain, dan mengganggpa bahwa diri kita paling benar
Daripada memuji diri hendaklah sabar
Biar daripada orang datangnya kabar
  • Pujian tidak usah dibuat sendiri tapi tunggulah datangnya dari orang lain
Orang yang suka menampakkan jasa
Setengah daripadanya syirik mengaku kuasa
  • Jangan menginginkan imbalan dari setiap jasa yang telah kita perbuat
Kejahatan diri disembunyikan
Kebajikan diri diamkan
  • Sifat-sifat jelek dalam diri kita jangan ditampakkan, begitu pula kebaikan-kebaikan yang telah kita perbuat
Ke’aiban orang jangan dibuka
Ke’aiban diri hendaklah sangka
  • Jangan membuka aib atau keburukan dari orang lain, kesalahan diri sendiri harus disadar
Pasal ke Sembilan (9) Gurindam 12

 berisi nasihat tentang moral pergaulan pria wanita dan tentang pendidikan. Hendaknya dalam pergaulan antara pria wanita ada pengendalian diri dan setiap orang selalu rajin beribadah agar kuat imannya ”
Tahu pekerjaan tak baik tetapi dikerjakan
Bukannya manusia yaitulah syaitan
  • Manusia yang sudah mengetahui bahwa pekerjaan yang di larang oleh allah swt, maka manusia tersebut tidak dapat di katakan manusia
Kejahatan seorang perempuan tua
Itulah iblis punya penggawa
  • Kejahatan seorang perempuan tua bagaikan pimpinan setan
Kepada segala hamba-hamba raja
Di situlah syaitan tempatnya manja
  • Jangan engkau tergoda akan kekayaan pada raja
Kebanyakan orang yang muda-muda
Di situlah syaitan tempat bergoda
  • Semasa muda jagalah iman kita jangan sampai tergoda oleh rayuan setan
Perkumpulan laki-laki dengan perempuan
Di situlah syaitan punya jamuan
  • Jika terdapat seorang lelaki dan seorang perempuan maka disitu pulalah setan berada untuk menggangu iman orang tersebut
Adapun orang tua yang hemat
Syaitan tak suka membuat sahabat
  • Orang yang semasa mudanya tidak menyia-nyiakan waktu dan selalu melangkah di jalan allah swt, maka setan akan menjauhi orang tersebut
Jika orang muda kuat berguru
Dengan syaitan jadi berseteru
  • orang muda yang gemar belajar dijauhi oleh setan.

Pasal ke Sepuluh (10) Gurindam 12

 berisi nasihat keagamaan dan budi pekerti, yaitu kewajiban anak untuk menghormati orang tuanya ”
Dengan bapak jangan durhaka
Supaya Allah tidak murka
  • Jangan durharka terhadap bapa
Dengan ibu hendaklah hormat
Supaya badan dapat selamat
  • Setiap anak harus hormat dan patuh terhadap ibunya karena surga di telapak kaki ibu dan ibu mempertaruhkan nyawanya untuk melahirkan anaknya
Dengan anak janganlah lalai
Supaya boleh naik ke tengah balai
  • Jagalah anak karena anak merupakan titipan tuhan
Dengan kawan hendaklah adil
Supaya tangannya jadi kapil
  • Bersikap adilah sesama teman

Pasal ke-11 (sebelas) Gurindam 12
Adapun mengenai pemaknaan gurindam tersebut, bait pertama
Hendaklah berjasa kepada yang sebangsa”

Makna dari kalimat tersebut adalah himbauan kepada manusia untuk selalu bisa bermanfaat kepada sesama, sebab dalam Islam memang sangat dianjurkan sekali untuk saling memberikan manfaat, seperti misalnya dalam sebuah hadis, “seorang muslim adalah saudara bagi orang islam yang lain, yang tidak akan menganiayanya, tidak akan membiarkannya (ataupun menyerahkannya kepada musuhnya). Barangsiapa menyampaikan hajat (kepentingan) saudaranya, maka Allah akan mengabulkan hajat orang itu. Barang siapa yang memberikan kemudahan bagi seorang muslim yang sedang kesulitan, maka Allah akan memberikan kemudahan padanya ketika kesulitan pada Hari Kiamat. Dan barangsiapa yang menutupi rahasia seorang muslim, maka Allah akan menutupi baginya rahasianya pada Hari Kiamat.” (HR. Muslim).


Untuk makna dari bait kedua gurindam pasal kesebelas
Hendaklah jadi kepala, buang perangai yang cela
Sangat erat kaitannya dengan kepemimpinan dalam Islam yang sangat mengutamakan akhlak yang mulia. Bukankah Rasulullah memiliki sifat-sifat terbaik dan jauh dari sifat yang tercela, yaitu Fathanah, Amanah, Shiddiq, dan Tabligh. Sehingga seorang pemimpin (kepala) hendaklah memiliki rasa tanggung jawab dan menjauhi akhlak yang tercela, “Kamu semua dalah pemimpin, dan kamu semua akan ditanya (bertanggungjawab) atas pimpinannya. Maka imam adalah pemimpin yang bertanggungjawab terhadap rakyatnya. Dan seorang suami adalah pemimpin terhadap keluarganya dan akan ditanya tentang pimpinannya. Dan seorang isteri adalah pemimpin pada rumah tangga suaminya maupun anak anaknya dan bertanggungjawab terhadap pimpinannya. Seorang anak menjadi pemimpin terhadap ayahnya dan bertanggungjawab terhadap apa yang telah dipimpinnya.. Dan seorang pelayan adalah pemimpin terhadap harta tuannya dan bertanggungjawaab atas pimpinannya. Maka kamu semua adalah pemimpin dan kamu semua adalah bertanggungjawab terhadap rakyat (hasil pimpinannya, anak buahnya, pekerjaanya)” (HR. Bukhari)

Kemudian bait yang ketiga

Hendaklah memegang amanat, buanglah khianat
Dapat direnungkan sebagai upaya agar menjadi orang yang terpercaya, sebagaimana dalam sebuah hadis, “Laksanakanlah amanat(kewajiban) pada orang yang mempercayakan diri padamu, dan janganlah berkhianat (menipu) pada orang yang menipumu” (HR. Turmudzi)

Untuk bait yang keempat

Hendak marah dahulukan hajat
Dalam sebuah hadis, riwayat Abu Daud disebutkan, “Barangsiapa yang menahan kemarahan, padahal dia sanggup untuk melepaskan kemarahan itu, maka Allah akan memenuhi hati orang itu berupa keamanan dan keimanan” (HR. Abu Daud)
Secara sederhana berati ini sebuah nasehat bahwa marah itu adalah sesuatu yang tidak baik dan dianjurkan untuk melaksanakan hajat misalnya silaturrahim, bertadabur alam, rihlah ataupun yang sejenisnya untuk mengurangi rasa marah itu dan mensyukuri nikmat yang telah
Allah berikan kepada manusia.

Bait yang kelima

Hendak dimulai jangan melalui

Maksud dari bait ini adalah bahwa sebagala sesuatu perlu awal untuk dimulai

Bait keenam
Hendak ramai, muliakan perangai
Bait ini sangat berkaitan dengan akhlak yang baik. Artinya jika seseorang ingin mendapatkan sesuatu ataupun silaturrahimnya semakin dipermudah oleh Allah, maka salah satu jalannya adalah dengan memperbaiki perangai (tingkah laku/akhlak), “Tidak ada sesuatu yang lebih memperberat timbangan pahala kebaikan (pada Hari Kiamat) kecuali budi pekerti (akhlak) yang baik” (HR. Abu Daud)
Makna yang trkandung dalam Pasal sebelas
 berisi nasihat kepada para pemimpin agar menghindari tindakan yang tercela, berusaha melaksanakan amanat anak buah dalam tugasnya, serta tidak berkhianat ”
Hendaklah berjasa
Kepada yang sebangsa
  • Berjasalah bagi negara dan bangsa, optimalkan setiap kemampuan yang kita punya sehingga kita bisa mengharumkan nama bangsa
Hendak jadi kepala
Buang perangai yang cela
  • Jadilah pemimpin yang tidak mempunyai sikap tercela
Hendaklah memegang amanat
Buanglah khianat

Anda Ingin Bahagia?

Semua orang ingin bahagia. Tapi sedikit yg berusaha melakukan sebab-sebab bagi tercapainya bahagia. Dengan kata lain mereka tak mau menyentuh kunci bahagia. Sama seperti dikatakan penyair “Kesuksesan yg kau ingini Namun usahamu tak berarti sedikit sekali Sungguh perahu itu tak mungkin berlabuh di permukaan tanah kering”
Sesungguhnya ada banyak kunci bahagia. Paling tidak ada 12 hal yg bila kita melakukannya kita akan bahagia.
Iman kepada Allah dan beramal shaleh. Allah berfirman “Siapa saja yg beramal kebajikan baik laki-laki maupun perempuan sedangkan dia dalam keadaan beriman maka Aku akan hidupkan mereka dalam kehidupan yg baik.” “Siapa saja beriman kepada Allah dan hari Akhir serta beramal shaleh mereka tidak pernah takut dan tidak pernah bersedih.” . Abu Yahya Shuhaib bin Sinan Ra. meriwayatkan Rasulullah Saw. bersabda “Sungguh mengherankan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya segala urusannya baginya memberikan kebaikan hal ini tidak dimiliki oleh seorangpun melainkan oleh seorang mukmin. Bila mendapatkan harta atau kesuksesan selalu bersyukur maka jadilah itu kebaikan baginya dan bila mendapatkan kesengsaraan dia selalu bersabar dan itupun menjadikan kebaikan baginya.”
Pengaruh iman dalam kehidupan sangat mnyata sekali. Ketika diinterogtasi di Damaskus dgn berbagai bentuk penyiksaan yg keji Ibnu Taimiyah Rahimahullah malah mengatakan “Apa yg diperbuat musuh-musuhku itulah surgakupenjara bagiku adl tempatku menyepi dan penyiksaan terhadapku itulah syahadahku sedang pengusiran terhadapku itulah tamasyaku.” Ucapan ini tentu tak akan keluar kecuali dari seorang yg benar-benar telah menghunjam kuat imannya di dalam dada.
Beriman kepada Qadha dan Qadar Qadha dan qadar baik buruknya semua adl datang dari Allah. Ketahuilah bila ada musibah menimpa dirimu maka itu bukanlah krn kesalahanmu dgn kata lain kesalahan yg kamu lakukan tidak mesti menyebabkan musibah bagimu di dunia. Karena semua telah ada dalam ketentuan Allah Ta’ala.
Ridha dgn bagian rezki dari Allah dan menerima berbagai kemungkinan yg bakal ditimpakan Allah padanya. Maka siapa saja yg tidak beriman kepada qadha dan qadar dia pasti hancur.
Sebagai contoh krn keimanan kepada qadha dan qadar adl kisah urwab bin Zubair. Kaki beliau terkena penyakit kanker sehingga harus diamputasi . Keadaan itu beliau terima dgn tabah. Ketika dokter menyarankan agar beliau minum khamar agar mengurangi rasa sakit saat diamputasi beliau menolak. Beliau berkata aku tunjukkan cara lain yakni tatkala aku sedang shalat maka kerjakanlah apa yg anda inginkan krn hati tatkala sedang bergantung kepada Allah maka tidak akan merasa dgn apa yg sedang mengenai dirinya. Benra tatkala urwah sedang bertakbir dan shalat operasipun dilakukan beliau tidak bergerak sedikitpun dan amputasi itu pun berhasil dgn baik.” Allahu Akbar”. Itulah buah iman yg sungguh-sungguh kepada qadha dan qadar.“Dan tidak akan diberikan sifat itu kecuali kepada oarang-orang yg sabar dan tidak diberikan melainkan kepada orang yg mempunyai kebahagiaan.”
Faham Ilmu Syariat Para ulama yg mengenal Allah merekalah orang-orang yg berbahagia. Mereka tidak memikirkan kecuali tentang berbagai ilmu yg diberikan Allah padanya.
Adalah abu Al hasan Az Zahid krn keberaniannya menentang penguasa zhalim Mesir di masanya Ahmad Toulun maka ia dimasukkan ke dalam kerangkeng singa. Seketika singa yg lapar itu meraung dan mendekat. Abu Al Hasan tetap tenang duduk tidak bergerak dan tidak mempedulikan. Orang-orang yg menyaksikan sudah tampak tegang. Ada yg ketakutan krn pemandangan yg amat mengerikan bahkan ada yg sampai menangis. Singa itu maju mundur mendekatinya kadang meraung lalu diam. Sesudah itu ia mengangguk-anggukkan kepalanya mendekat kepada Abul Hasan lalu menciumnya dan pergi tanpa berbuat apa-apa. Orang-orangpun spontan berteriak dgn takbir dan tahlil.
Apa yg lbh hebat dari itu? tatkala Ibnu Toulon bertanya kepada Abu Al Hasan tentang apa yg ada di dalam benaknya ketika itu ia menjawab “Aku berfikri tentang air liur singa tersebut seandainya mengenaiku. Apakah najis atau tidak?” Apa kamu tidak takut kepada singa? tanya Ibnu Toulon. Tidak krn sesungguhnya Allah melindungiku.” Inilah kebahagiaan yg nyata yg dihasilkan oleh iman dan ilmu yg bermanfaat. Inilah kelapangan yg selalu diburu oleh tiap manusia.
Banyak Dzikir dan membaca Al Qur’an Allah berfirman “Ketahuilah dgn dzikir kepada Allah akan tenanglah hati.” . Orang yg selalu dzikir dan ingat kepada Allah akan bahagia dan tenang hatinya. Sedangkan orang yg berpaling dari ingat kepada Allah maka ia akan hidup dalam kesusahan dan kesedihan. “Dan siapa saja yg berpaling dari ingat kepada Tuhan yg Pemuarah niscaya kami tentukan bagtinya setan maka jadilah ia teman yg tidak terpisah baginya.”“Dan siapa saja yg berpaling dari dzikir kepada Aku maka adl baginya penghidupan yg sempti dan kami akan kumpulkan dia pada hari Kiamat dalam keadaan buta.” “Maka kecelakaan bagi mereka yg beku hatinya dari mengingat Allah Mereka itu dalam kesesatan yg nyata.” {Az Zumar 220
Dalam Al Qur’an banyak ditemukan ayat-ayat yg membicarakan kedudukan hati yg lapang di antaranya “Tuhanku lapangkanlahn dadaku.” “Bukankah Akuy telah lapangkan bagimu dadamu?” “Siapa saja yg Allah menghendaki akan memberikan padanya hidayah niscaya Allah akan lapangkan dadanya utk menerim islam.” “Maka apakah yg Allah lapangkan dadanya utk memeluk islam yaitu orang yg berjalan atas nur dari Tuhannya sama dgn yg beku hatinya?”
Kelapangan dada dan mencarinya termasuk tanda-tanda kebahagiaan dan sifart orang-orang yg berbahagia.
Berbuat Baik kepada Manusia Ini adl fakta. Orang yg suka berbuat baik kepada manusia dialah orang yg paling berbahagia serta yg paling diterima hidupnya di atas bumi.
Memandang urusan dunia lbh rendah daripada urusan Akherat. Dalam hal ini Rasulullah Saw. bersabda“Lihatlah orang-orang yg di bawah kamu dan janganlah kamu melihat kepada orang yg lbh tinggi darai kamu. Maka hal itu akan lbh pasti utk meremehkan ni’mat Allah.” . Ini adl dalam urusan keduniaan krn bila kita ingat ada orang yg lbh rendah dari kita maka kita akan mengetahui betapa besar ni’mat Allah yg diberikan kepada kita. Adapun dalam urusan akherat maka hendaknya kita melihat kepada orang-orang yg lbh tinggi dari kita agar kita sadar akan kelemahan dan kekutangan kita. Jangan kita melihat orang yg hancur dan sebab-sebab kehancurannya tetapi lihatlah orang yg selamat dan bagaimana keselamatan itu diraih.
Tidak tamak dunia dan selalu siap mati. Syaikh Abdurrhaman As Sa’di rahimahullah pernah berkata “Hidup itu pendek oleh krn itu janganlah dipendekkan lagi dgn lamunan dan perbuatan dosa.”
Benar bahwa hidup ini sangatlah pendek oleh krn itu kita harus tidak menemabah kependekan itu ini dgn kebencian angan-angan yg jahat dan perbuatan dosa.
Yakin kebahagiaan hakiki bagi seorang mukmin adl di akherat walaupun di dunia tidak bahagia. Allah berfirman“Adapun orang-orang yg berbahagia maka dalam SurgaKu lah mereka keadaan mereka kekal padanya selama langit dan bumi dikehendaki oleh Tuhanmu sebagai suatu pemberian yg tidak putus.” . Rasul Saw. bersabda “Dunia ini penjara bagi mukmin dan Surga bagi orang kafir.”Tentanng hadits ini ada kisah menarik dari Ibnu Hajar Al Asqalani. Suatu ketika beliau yg tampak berseri-seri dicegat oleh seorang Yahudi yg sedang dilanda kesedihan hebat. Orang Yahudi itu bertanya“Bagimana anda menafsirkan ucapan Rasul Saw. “Dunia ini penjara bagi orang mukmin dan Surga bagi orang kafir? Kini anda tahu aku dalam keadaan sedih sedangkan aku kafir dan anda dalam keadaan bahagia sedangkan anda mukmin?”. Ibnu Hajar menjawab“Anda dgn kesedihan dan kemiskinan termasuk berada dalam Surga dibandingkan akheratmu yg penuh dgn siksa yg pedih . Sedangkan aku maka dgn kesenangan dunia ini termasuk penjara dibandingkan dgn keni’matan yg sedang menungguku di Surga.” Orang Yahudi itu menjawab“Apakah demikian?” Ibnu Hajar menjawab“Ya.” Maka orang itu pun menyatakan“Aku bersaksi tidak ada Tuhan yg berhak disembah kecuali Allah dan Muhammad adl utusan Allah.”
Bersabahat dgn Orang Shaleh Pengaruh kawan sungguh sangat besar. Karena itu Nabi Saw. bersabda“Perumpamaan teman yg baik dgn teman yg buruk adl laksana pembawa minyak dan pekerja pandai besi.
Yakin perbuatan jahat orang lain akan menjadi kebaikan bagi dirinya maka maafkanlah dia. Ibrahim Ataimi berkata“Sesungguhnya ada seorang laki-laki mendzhalimiku maka aku mengasihinya.”Diriwayatkan ada beberapa ulama dan juga banyak orang yg berbuat jahat kepada Ibnu Taimiyah sehingga beliau dipejarakan di iskandariyah. Setelah keluar dari penjara ada yg bertanya adakah kamu ingin membalas orang yg berbuat jahat padamu? Beliau menjawab aku bebaskan siapa saja yg telah berbuat zhalim kepadaku dan aku maafkan. Ibnu Taimiyah telah membebaskan semuanya krn beliau tahu hal itu akan membuatnya bahagia di dunia dan akherat.
Seorang salaf mendengar ada seorang yg ghibah atas dirinya. Maka orang salaf tadi memilih suatu hadiah yg menarik. Pergilah ia kepada orang yg berbuat ghibah itu dan diberikannya hadiah tadi. Ketika ditanya tentang sebab pemberian hadiah itu ia menjawab Rasulullah Saw. bersabda“Siapa saja yg berbuat kebajikan atasmu maka berilah dia imbalan. Sesungguhnya anda telah memberikan hadiah kepadaku dari kebajikanmu sedangkan aku tidak punya kebajikan yg dapat aku berikan padamu kecuali kebaikan dunia. “Maha Suci Allah.
Berbicara baik hapuslah perbuatan buruk dgn berbuat kebajikan.“Dan tidak sama antara kebajikan dan keburukan. Tolaklah keburukan itu dgn sesuatu yg lbh baik.”Coba renungkan wahai saudaraku pengarahan Tuhan yg agung kepada aorang yg beriman“Dan tatkala mereka lewat di hadapan permainan dia lewat dgn penuh kemuliaan.”
Selalu Kembali kepada Allah dan Berdo’a kepadaNya Rasul Saw. telah meneladankan semua itu di antaranya beliau berdo’a“Ya Allah perbaikilah aku dalam beragama krn dgn agama itu menjadi ishmah bagi segala urusanku perbaikilah pula duniaku yg merupakan penghidupanku. Perbaiki pula akheratku yg akan menjadi tempat kembaliku jadikanlah hidup ini tambahan bagiku dgn berbagai kebaikan serta jadikanlah kematianku sebagai tempat istirahatku dari segala keburukan.”. Beliau juga senantiasa berdo’a“Ya Allah rahmatMu aku harapkan. Janganlah Engkau tanggungkan kepada diriku sendiri meski hanya sejenak dan perbaikilah seluruh keadaanku semuanya tidak ada Tuhan yg berhak disembah kecuali Engkau.”
Mudah-mudahan kita mendapat kebahagiaan yg sesungguhnya bukan angan-angan juga bukan sekedar pembicaraan. Dan kepada Allah lah segala urusan kita kembalikan. Wallahu A’lam.
sumber file al_islam.chm


Aku Bersaksi, Tiada Tuhan selain Allah
Dan Aku bersaksi bahwa Muhammad Rasul Allah”
Kebenaran adalah sesuatu yang bernilai absolut, mutlak.
Namun seringkali kebenaran ini menjadi relatif, bergantung kepada bagaimana cara masing-masing orang memberikan arti dan penilaian terhadap kebenaran itu sendiri, sehingga itu pula kebenaran sudah menjadi sesuatu yang bersifat subjektif.
Beriman itu, haruslah dimulai terlebih dahulu dari hati “Qalbu”.
Bahwa untuk menjalankan
 syariat suatu agama haruslah dimulai dengan keimanan dahulu adalah sesuatu hal yang tidak dapat terbantahkan.
Keadaan beriman sesorang adalah kondisi “jadi” dari seseorang itu.
Pertanyaannya adalah kondisi jadi tersebut diperoleh lewat mana ?
Tentunya kita berdua tidak bisa mengatakan kondisi beriman tersebut ada karena lewat iman.
Pernyataan ini tertolakkan dalam dunia ilmiah dan bertentangan dengan penalaran saya selaku manusia yang fitrah.
Seseorang memperoleh keimanannya lewat dua jalur, ada yang lewat akal dan ada yang lewat nafsu(nafsu dalam hal ini adalah persangkaan atau praduga manusia)
Jika iman diartikan percaya, maka percaya juga bisa lewat akal atau persangkaan. Misalnya apabila kita hendak melewati sebuah jembatan dari besi, tentu kita akan enteng saja melewatinya, karena persangkaan kita jembatan tersebut sudah kuat. Tetapi bila yang dilewati adalah jembatan dari kayu dan tali, paling tidak kita akan mengecek kekuatan jembatan tsb terlebih dahulu (menginjak-injak dari pinggir terlebih dahulu dsb )
Dalam berislam pun demikian, terdapat orang-orang yang mencapai iman dengan akal, dan ada yang dengan persangkaan.
Misalnya yang dengan persangkaan adalah seorang islam yang tidak mampu menjawab pertanyaan ” Mengapa kamu memilih Islam ?”, “Darimana kamu kamu tahu bahwa Islam itu benar ?”, ” jika ortumu nggak Islam kira-kira kamu Islam nggak ?”, atau bisa juga “mengapa kamu harus menjadi pengikut Ahmadiyah ?”, “Darimana kamu yakin bahwa Ahmadiyah itu benar dan bukan hal yang justru terkutuk ?” dst.
Jadi, Iman terhadap sesuatu itu tetap harus dibuktikan dulu apakah memang pengimanan tersebut sudah benar atau belum. Dan jalan untuk membuktikan kebenaran akan keimanan ini salah satunya dengan mengadakan penelaahan terhadap iman itu sendiri dengan mengadakan penyesuaian terhadap fitrah manusia.
Manusia menurut sejarah al-Qur’an telah diciptakan oleh Allah sebagai makhluk yang mulia hingga malaikat sekalipun disuruh tunduk, hormat terhadap makhluk bernama manusia ini. Manusia diciptakan berbeda dengan makhluk-makhluk lainnya, baik yang bisa dilihat secara kasat mata maupun makhluk yang tidak bisa dilihat dengan mata telanjang yang harus mempergunakan alat-alat tertentu seperti mikroskop dan sebagainya untuk melihatnya atau juga makhluk ghaib yang hanya orang-orang tertentu yang dapat melihatnya.
Keutamaan manusia yang paling sering disinggung oleh banyak orang dan bahkan juga al-Qur’an adalah dilimpahkannya anugerah akal sebagai alat untuk berpikir dan memberikan jalan baginya didalam upaya mencari kebenaran Allah, yaitu dzat yang menjadi sumber dari kebenaran itu sendiri.
Seorang manusia tidak bisa memilih, di negeri mana ia dilahirkan, dan siapa
orang tuanya. Yang ia dapatkan hanyalah kenyataan, bahwa di negerinya,
kebanyakan orang memeluk agama atau keyakinan (ideologi) tertentu, dan
orang tuanyapun mendidiknya sejak kecil dengan suatu pandangan hidup
tertentu.
Namun hampir setiap manusia yang normal ternyata memiliki suatu naluri
(instinkt), yakni suatu saat akan menanyakan, apakah keyakinan yang
dianutnya saat itu benar atau salah. Dia akan mulai membandingkan
ajaran-ajaran agama atau ideologi yang dikenalnya. Bagaimanapun juga
keberhasilan pencariannya ini sangat bergantung dari informasi yang datang
ke padanya. Kalau informasi pengganggu (noise) yang datang kepadanya
terlalu kuat, misalnya adanya teror atau propaganda yang gencar dari
pihak-pihak tertentu, bisa jadi sebelum menemukan kebenaran itu, ia sudah
berhenti pada keyakinan tertentu yang dianggapnya enak (meski sebenarnya
sesat).
MEMBANDINGKAN SUMBER AJARAN TIAP AGAMA
(
Aspek theologis)
Kebenaran suatu ajaran bisa direlatifkan dengan mudah bila hanya didasari
oleh suatu asumsi. Dan kenyataan, hampir setiap pengertian buatan manusia
adalah relatif. Para filosof mengatakan, bahwa suatu definisi hanyalah
konsensus dari beberapa orang pada saat tertentu di tempat tertentu yang
memiliki pengalaman yang mirip. Maka tak heran, bahwa untuk beberapa
pengertian yang sering kita dengar saja (seperti “demokrasi”, “hak asasi
manusia”, dll), antar bangsa (dengan latar belakang kultur yang berbeda)
dan antar generasi (dengan pengalaman sejarah yang berbeda), bisa berbeda
pula pemahamannya.
Karena itu pulalah, ada ajaran yang cepat ditelan musim. Seseorang yang
memegang ajaran seperti ini, jelas suatu saat akan goyah. Sebagai contoh
adalah kaum komunis. Usia ajaran ini ternyata tidak bertahan lebih dari
satu abad. Demikian pula dengan ajaran banyak sekte keagamaan atau aliran
kepercayaan.
Untuk menghindari ajaran yang salah, manusia pertama-tama harus melihat
sumber ajaran itu. Apakah ajaran itu bersumber dari dasar-dasar yang rapuh?
Dalam hal ini, agama-agama yang sudah cukup tua agak “mengundang” untuk
dipelajari, karena mereka menunjukkan sudah “tahan bantingan” untuk kurun
waktu yang sangat lama. Namun demikian tetap perlu dipertanyakan, akankah
ajaran-ajaran “kuno” ini mampu survive menghadapi zaman post moden dengan
kehebatan pemikirannya seperti dewasa ini?
Di zaman modern ini orang tidak bisa begitu saja “dikelabuhi”. Kita tidak
bisa begitu saja bilang: “Agama XXX ini benar, karena kitab sucinya bilang
begitu …. “. Dan: “Kitab ini benar, karena masih asli dari pembawanya.
Dan kebenaran pembawa ajaran ini dijamin di kitab itu…”.
Logika “circular” (berputar-putar) ini tidak bisa memuaskan kehausan iman
manusia modern. Suatu “teori kebenaran” hanya akan bertahan, kalau ia tidak
bisa difalsifikasi (tidak bisa dibuktikan bahwa ia salah). Hal ini karena
suatu proses falsifikasi, cukup memerlukan satu bukti. Sedang suatu proses
pembenaran, memerlukan seluruh bukti, yang tentu saja sulit, karena kita
sering tidak tahu, berapa jumlah bukti yang dibutuhkan.
Suatu ajaran bisa dianggap benar, bila ia:
* stabil intern – ajarannya harmoni, tidak bertentangan satu dengan yang
  lain.
  * stabil extern – ajarannya tidak bisa disalahkan dengan bukti-bukti
  dari luar (misalnya dengan fakta-fakta ilmu alam).
Dalam hal ini tentu saja kita harus bertolak dari ajaran yang murni (ajaran
Das Sollen), yakni yang ada di sumber-sumber ajaran itu sendiri (kitab-kita
suci), dan bukan ajaran yang sedang dipraktekkan oleh pemeluknya, yang
mungkin saja tidak mempraktekkan ajarannya dengan benar (ajaran Das Sein).
MEMBANDINGKAN ISI AJARAN TIAP AGAMA
(
Aspek ethis)
Selain mengkaji keabsahan sumber ajaran, suatu langkah pembandingan antar
ajaran adalah juga melihat seberapa jauh isi suatu ajaran mengcover
permasalahan kehidupan manusia. Apakah suatu ajaran hanya menekankan di
satu sisi saja (misalnya sisi duniawi saja, atau sisi rohani saja), ataukah
bersifat menyeluruh, baik duniawi maupun rohani?
Suatu agama yang tidak bersifat menyeluruh akan mengakibatkan dualisme
dalam pemikiran. Di satu sisi orang harus berfikir agamis, di sisi lain
orang harus memilih jalan pragmatis, yang tak jarang bertentangan dengan
fikiran agamis itu.
Mungkinkah melegitimasi ajaran suatu agama dengan agama lainnya.
Sering pemeluk suatu ajaran mencoba meligitimasi kebenaran ajarannya dengan
mengutip statement ajaran lain.
Yang perlu ditinjau adalah, sejauh mana percobaan legitimasi ini dapat
dinalar dengan logika. Memang, tidak menutup kemungkinan, bahwa suatu hal
yang baru membenarkan teori lama yang sudah ada. Penerbangan ke bulan
menambah bukti kebenaran teori bahwa bumi itu bulat. Namun bila penganut
teori lama melegitimasi diri dengan bukti-bukti baru, sementara mereka
menganggap orang yang percaya pada bukti-bukti baru itu keliru, tentu ada
yang tidak logis di sini.
Bila ada ajaran A, B, dan C, yang timbulnya di dunia urut satu demi satu,
maka A hanya bisa membenarkan B, bila penganut A nantinya harus berganti
menjadi penganut B. Inilah yang terjadi dengan ajaran Muhammad, yang sudah
diramalkan dalam Kitab Taurat dan Injil.
Hal yang sebaliknya, yaitu A membenarkan diri dengan B, namun tidak menjadi
penganut B, tentu akan janggal sekali. Karena itu, penganut agama sebelum
Islam, tidak layak membenarkan dirinya dengan menggunakan ajaran Islam,
bila mereka tidak lalu beralih menjadi muslim.
Namun ajaran yang lebih baru tidak tentu lebih benar. Karena itu, terhadap
ajaran C, bisa saja B membenarkan (dengan konsekuensi penganut B berubah
menjadi C dan meninggalkan B), atau menganggap C bagian dari B (jadi B dan
C sama-sama benar), atau C salah. Hal ini berlaku terhadap agama-agama yang
timbul setelah kenabian Muhammad. Ketika ajaran Qadiyan muncul, ada orang
Islam yang pindah menjadi Qadiyan (dan keluar dari Islam), ada yang
menganggap Qadiyan bagian dari Islam, ada pula yang menolaknya, karena
menganggap keliru.
MENGAPA ADA BANYAK AGAMA
Orang sering menganggap mudah fenomena ini dengan mengatakan: “Banyak jalan
menuju Tuhan” atau “Sungai-sungai kelihatan berbeda kalau dilihat hulunya,
namun satu kalau dilihat muaranya”. Pada prinsipnya mereka menganggap semua
agama baik dan benar, dan karena itu tidak perlu dipersoalkan.
Memang kita tidak akan debat kusir soal agama. Namun kita tentu akan
menjaga, minimal keluarga kita, agar menganut ajaran yang benar.
“Banyak jalan menuju Tuhan”. Koq tahu? Kalau dikatakan “Banyak jalan menuju
Roma” kita tentu bisa menerima, karena banyak informasi dari sana, dan
mungkin ada kawan kita sendiri yang pernah ke Roma dan pulang bercerita ke
kita. Namun kepada Tuhan? Orang-orang yang pergi menghadap Tuhan (artinya
mati), ternyata tidak pernah kembali lagi. Orang yang menghadap Tuhan dan
kembali lagi ya para nabi itu. Lagi pula toh tidak semua jalan itu lempang
dan lurus. Kalau ada banyak jalan menuju Tuhan, kenapa kita tidak memilih
jalan yang lurus, jelas dan tidak penuh duri-duri penyesat?
Demikian juga, memang agama-agama di dunia ini bisa diibaratkan dengan
sungai-sungai. Namun ternyata ada sungai yang tidak bermuara di laut, namun
di danau garam (sungai Jordan misalnya). Atau sungai-sungai itu tercemar di
perjalanan, dipakai untuk irigasi dsb, sehingga tidak pernah mencapai laut.
Ajaran-ajaran yang benar dari Tuhan memang merupakan sungai-sungai yang
mengalir ke muara yang sama. Namun ajaran-ajaran yang sesat, yang
dibuat-buat manusia, tidak akan mencapai Tuhan, karena yang dituju memang
bukan Tuhan. Di zaman modern ini banyak “agama kontemporer” semacam ini.
Ada yang memuja Mao Tse Tung, Lenin ataupun (John) Lennon. Bukankah
kapitalisme, komunisme maupun kult musik tertentu sering disebut sebagai
agama abad-20?
EVOLUSI ISLAM
Sementara itu, beberapa ajaran agama yang klasik (seperti Hindu, Budha,
Yahudi, Nasrani dll) bisa jadi memang berasal dari seorang utusan Tuhan di
zaman dulu. Kondisi dan situasi yang berbeda saat ajaran itu diturunkan,
membuat ajaran yang diperlukan juga berbeda. Sedang kebudayaan manusia
mengalami perkembangan (evolusi).
Akhirnya evolusi itu sampai pada satu titik, di mana suatu ajaran yang
bersifat universal (sesuai untuk seluruh manusia) dan komprehensif (sesuai
untuk seluruh masa) tiba saatnya. Ibarat sungai, ajaran berbagai agama yang
ada di dunia ini laksana anak-anak sungai yang mengalir ke sebuah sungai
yang besar.
Agama-agama selain Islam sesungguhnya hanya diperuntukkan untuk suatu kaum
tertentu, di daerah tertentu dan pada masa tertentu. Hal ini disebutkan
oleh kitab-kitab mereka, yang merupakan tanda-tanda dari Tuhan yang sampai
pada saat ini – di luar soal bahwa banyak kitab-kitab itu kini tidak lagi teruji autentitasnya.
source: geocities.com/Pentagon/Quarters/1246/asli.html