Sabtu, 13 April 2013

Anda Ingin Bahagia?

Semua orang ingin bahagia. Tapi sedikit yg berusaha melakukan sebab-sebab bagi tercapainya bahagia. Dengan kata lain mereka tak mau menyentuh kunci bahagia. Sama seperti dikatakan penyair “Kesuksesan yg kau ingini Namun usahamu tak berarti sedikit sekali Sungguh perahu itu tak mungkin berlabuh di permukaan tanah kering”
Sesungguhnya ada banyak kunci bahagia. Paling tidak ada 12 hal yg bila kita melakukannya kita akan bahagia.
Iman kepada Allah dan beramal shaleh. Allah berfirman “Siapa saja yg beramal kebajikan baik laki-laki maupun perempuan sedangkan dia dalam keadaan beriman maka Aku akan hidupkan mereka dalam kehidupan yg baik.” “Siapa saja beriman kepada Allah dan hari Akhir serta beramal shaleh mereka tidak pernah takut dan tidak pernah bersedih.” . Abu Yahya Shuhaib bin Sinan Ra. meriwayatkan Rasulullah Saw. bersabda “Sungguh mengherankan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya segala urusannya baginya memberikan kebaikan hal ini tidak dimiliki oleh seorangpun melainkan oleh seorang mukmin. Bila mendapatkan harta atau kesuksesan selalu bersyukur maka jadilah itu kebaikan baginya dan bila mendapatkan kesengsaraan dia selalu bersabar dan itupun menjadikan kebaikan baginya.”
Pengaruh iman dalam kehidupan sangat mnyata sekali. Ketika diinterogtasi di Damaskus dgn berbagai bentuk penyiksaan yg keji Ibnu Taimiyah Rahimahullah malah mengatakan “Apa yg diperbuat musuh-musuhku itulah surgakupenjara bagiku adl tempatku menyepi dan penyiksaan terhadapku itulah syahadahku sedang pengusiran terhadapku itulah tamasyaku.” Ucapan ini tentu tak akan keluar kecuali dari seorang yg benar-benar telah menghunjam kuat imannya di dalam dada.
Beriman kepada Qadha dan Qadar Qadha dan qadar baik buruknya semua adl datang dari Allah. Ketahuilah bila ada musibah menimpa dirimu maka itu bukanlah krn kesalahanmu dgn kata lain kesalahan yg kamu lakukan tidak mesti menyebabkan musibah bagimu di dunia. Karena semua telah ada dalam ketentuan Allah Ta’ala.
Ridha dgn bagian rezki dari Allah dan menerima berbagai kemungkinan yg bakal ditimpakan Allah padanya. Maka siapa saja yg tidak beriman kepada qadha dan qadar dia pasti hancur.
Sebagai contoh krn keimanan kepada qadha dan qadar adl kisah urwab bin Zubair. Kaki beliau terkena penyakit kanker sehingga harus diamputasi . Keadaan itu beliau terima dgn tabah. Ketika dokter menyarankan agar beliau minum khamar agar mengurangi rasa sakit saat diamputasi beliau menolak. Beliau berkata aku tunjukkan cara lain yakni tatkala aku sedang shalat maka kerjakanlah apa yg anda inginkan krn hati tatkala sedang bergantung kepada Allah maka tidak akan merasa dgn apa yg sedang mengenai dirinya. Benra tatkala urwah sedang bertakbir dan shalat operasipun dilakukan beliau tidak bergerak sedikitpun dan amputasi itu pun berhasil dgn baik.” Allahu Akbar”. Itulah buah iman yg sungguh-sungguh kepada qadha dan qadar.“Dan tidak akan diberikan sifat itu kecuali kepada oarang-orang yg sabar dan tidak diberikan melainkan kepada orang yg mempunyai kebahagiaan.”
Faham Ilmu Syariat Para ulama yg mengenal Allah merekalah orang-orang yg berbahagia. Mereka tidak memikirkan kecuali tentang berbagai ilmu yg diberikan Allah padanya.
Adalah abu Al hasan Az Zahid krn keberaniannya menentang penguasa zhalim Mesir di masanya Ahmad Toulun maka ia dimasukkan ke dalam kerangkeng singa. Seketika singa yg lapar itu meraung dan mendekat. Abu Al Hasan tetap tenang duduk tidak bergerak dan tidak mempedulikan. Orang-orang yg menyaksikan sudah tampak tegang. Ada yg ketakutan krn pemandangan yg amat mengerikan bahkan ada yg sampai menangis. Singa itu maju mundur mendekatinya kadang meraung lalu diam. Sesudah itu ia mengangguk-anggukkan kepalanya mendekat kepada Abul Hasan lalu menciumnya dan pergi tanpa berbuat apa-apa. Orang-orangpun spontan berteriak dgn takbir dan tahlil.
Apa yg lbh hebat dari itu? tatkala Ibnu Toulon bertanya kepada Abu Al Hasan tentang apa yg ada di dalam benaknya ketika itu ia menjawab “Aku berfikri tentang air liur singa tersebut seandainya mengenaiku. Apakah najis atau tidak?” Apa kamu tidak takut kepada singa? tanya Ibnu Toulon. Tidak krn sesungguhnya Allah melindungiku.” Inilah kebahagiaan yg nyata yg dihasilkan oleh iman dan ilmu yg bermanfaat. Inilah kelapangan yg selalu diburu oleh tiap manusia.
Banyak Dzikir dan membaca Al Qur’an Allah berfirman “Ketahuilah dgn dzikir kepada Allah akan tenanglah hati.” . Orang yg selalu dzikir dan ingat kepada Allah akan bahagia dan tenang hatinya. Sedangkan orang yg berpaling dari ingat kepada Allah maka ia akan hidup dalam kesusahan dan kesedihan. “Dan siapa saja yg berpaling dari ingat kepada Tuhan yg Pemuarah niscaya kami tentukan bagtinya setan maka jadilah ia teman yg tidak terpisah baginya.”“Dan siapa saja yg berpaling dari dzikir kepada Aku maka adl baginya penghidupan yg sempti dan kami akan kumpulkan dia pada hari Kiamat dalam keadaan buta.” “Maka kecelakaan bagi mereka yg beku hatinya dari mengingat Allah Mereka itu dalam kesesatan yg nyata.” {Az Zumar 220
Dalam Al Qur’an banyak ditemukan ayat-ayat yg membicarakan kedudukan hati yg lapang di antaranya “Tuhanku lapangkanlahn dadaku.” “Bukankah Akuy telah lapangkan bagimu dadamu?” “Siapa saja yg Allah menghendaki akan memberikan padanya hidayah niscaya Allah akan lapangkan dadanya utk menerim islam.” “Maka apakah yg Allah lapangkan dadanya utk memeluk islam yaitu orang yg berjalan atas nur dari Tuhannya sama dgn yg beku hatinya?”
Kelapangan dada dan mencarinya termasuk tanda-tanda kebahagiaan dan sifart orang-orang yg berbahagia.
Berbuat Baik kepada Manusia Ini adl fakta. Orang yg suka berbuat baik kepada manusia dialah orang yg paling berbahagia serta yg paling diterima hidupnya di atas bumi.
Memandang urusan dunia lbh rendah daripada urusan Akherat. Dalam hal ini Rasulullah Saw. bersabda“Lihatlah orang-orang yg di bawah kamu dan janganlah kamu melihat kepada orang yg lbh tinggi darai kamu. Maka hal itu akan lbh pasti utk meremehkan ni’mat Allah.” . Ini adl dalam urusan keduniaan krn bila kita ingat ada orang yg lbh rendah dari kita maka kita akan mengetahui betapa besar ni’mat Allah yg diberikan kepada kita. Adapun dalam urusan akherat maka hendaknya kita melihat kepada orang-orang yg lbh tinggi dari kita agar kita sadar akan kelemahan dan kekutangan kita. Jangan kita melihat orang yg hancur dan sebab-sebab kehancurannya tetapi lihatlah orang yg selamat dan bagaimana keselamatan itu diraih.
Tidak tamak dunia dan selalu siap mati. Syaikh Abdurrhaman As Sa’di rahimahullah pernah berkata “Hidup itu pendek oleh krn itu janganlah dipendekkan lagi dgn lamunan dan perbuatan dosa.”
Benar bahwa hidup ini sangatlah pendek oleh krn itu kita harus tidak menemabah kependekan itu ini dgn kebencian angan-angan yg jahat dan perbuatan dosa.
Yakin kebahagiaan hakiki bagi seorang mukmin adl di akherat walaupun di dunia tidak bahagia. Allah berfirman“Adapun orang-orang yg berbahagia maka dalam SurgaKu lah mereka keadaan mereka kekal padanya selama langit dan bumi dikehendaki oleh Tuhanmu sebagai suatu pemberian yg tidak putus.” . Rasul Saw. bersabda “Dunia ini penjara bagi mukmin dan Surga bagi orang kafir.”Tentanng hadits ini ada kisah menarik dari Ibnu Hajar Al Asqalani. Suatu ketika beliau yg tampak berseri-seri dicegat oleh seorang Yahudi yg sedang dilanda kesedihan hebat. Orang Yahudi itu bertanya“Bagimana anda menafsirkan ucapan Rasul Saw. “Dunia ini penjara bagi orang mukmin dan Surga bagi orang kafir? Kini anda tahu aku dalam keadaan sedih sedangkan aku kafir dan anda dalam keadaan bahagia sedangkan anda mukmin?”. Ibnu Hajar menjawab“Anda dgn kesedihan dan kemiskinan termasuk berada dalam Surga dibandingkan akheratmu yg penuh dgn siksa yg pedih . Sedangkan aku maka dgn kesenangan dunia ini termasuk penjara dibandingkan dgn keni’matan yg sedang menungguku di Surga.” Orang Yahudi itu menjawab“Apakah demikian?” Ibnu Hajar menjawab“Ya.” Maka orang itu pun menyatakan“Aku bersaksi tidak ada Tuhan yg berhak disembah kecuali Allah dan Muhammad adl utusan Allah.”
Bersabahat dgn Orang Shaleh Pengaruh kawan sungguh sangat besar. Karena itu Nabi Saw. bersabda“Perumpamaan teman yg baik dgn teman yg buruk adl laksana pembawa minyak dan pekerja pandai besi.
Yakin perbuatan jahat orang lain akan menjadi kebaikan bagi dirinya maka maafkanlah dia. Ibrahim Ataimi berkata“Sesungguhnya ada seorang laki-laki mendzhalimiku maka aku mengasihinya.”Diriwayatkan ada beberapa ulama dan juga banyak orang yg berbuat jahat kepada Ibnu Taimiyah sehingga beliau dipejarakan di iskandariyah. Setelah keluar dari penjara ada yg bertanya adakah kamu ingin membalas orang yg berbuat jahat padamu? Beliau menjawab aku bebaskan siapa saja yg telah berbuat zhalim kepadaku dan aku maafkan. Ibnu Taimiyah telah membebaskan semuanya krn beliau tahu hal itu akan membuatnya bahagia di dunia dan akherat.
Seorang salaf mendengar ada seorang yg ghibah atas dirinya. Maka orang salaf tadi memilih suatu hadiah yg menarik. Pergilah ia kepada orang yg berbuat ghibah itu dan diberikannya hadiah tadi. Ketika ditanya tentang sebab pemberian hadiah itu ia menjawab Rasulullah Saw. bersabda“Siapa saja yg berbuat kebajikan atasmu maka berilah dia imbalan. Sesungguhnya anda telah memberikan hadiah kepadaku dari kebajikanmu sedangkan aku tidak punya kebajikan yg dapat aku berikan padamu kecuali kebaikan dunia. “Maha Suci Allah.
Berbicara baik hapuslah perbuatan buruk dgn berbuat kebajikan.“Dan tidak sama antara kebajikan dan keburukan. Tolaklah keburukan itu dgn sesuatu yg lbh baik.”Coba renungkan wahai saudaraku pengarahan Tuhan yg agung kepada aorang yg beriman“Dan tatkala mereka lewat di hadapan permainan dia lewat dgn penuh kemuliaan.”
Selalu Kembali kepada Allah dan Berdo’a kepadaNya Rasul Saw. telah meneladankan semua itu di antaranya beliau berdo’a“Ya Allah perbaikilah aku dalam beragama krn dgn agama itu menjadi ishmah bagi segala urusanku perbaikilah pula duniaku yg merupakan penghidupanku. Perbaiki pula akheratku yg akan menjadi tempat kembaliku jadikanlah hidup ini tambahan bagiku dgn berbagai kebaikan serta jadikanlah kematianku sebagai tempat istirahatku dari segala keburukan.”. Beliau juga senantiasa berdo’a“Ya Allah rahmatMu aku harapkan. Janganlah Engkau tanggungkan kepada diriku sendiri meski hanya sejenak dan perbaikilah seluruh keadaanku semuanya tidak ada Tuhan yg berhak disembah kecuali Engkau.”
Mudah-mudahan kita mendapat kebahagiaan yg sesungguhnya bukan angan-angan juga bukan sekedar pembicaraan. Dan kepada Allah lah segala urusan kita kembalikan. Wallahu A’lam.
sumber file al_islam.chm


Aku Bersaksi, Tiada Tuhan selain Allah
Dan Aku bersaksi bahwa Muhammad Rasul Allah”
Kebenaran adalah sesuatu yang bernilai absolut, mutlak.
Namun seringkali kebenaran ini menjadi relatif, bergantung kepada bagaimana cara masing-masing orang memberikan arti dan penilaian terhadap kebenaran itu sendiri, sehingga itu pula kebenaran sudah menjadi sesuatu yang bersifat subjektif.
Beriman itu, haruslah dimulai terlebih dahulu dari hati “Qalbu”.
Bahwa untuk menjalankan
 syariat suatu agama haruslah dimulai dengan keimanan dahulu adalah sesuatu hal yang tidak dapat terbantahkan.
Keadaan beriman sesorang adalah kondisi “jadi” dari seseorang itu.
Pertanyaannya adalah kondisi jadi tersebut diperoleh lewat mana ?
Tentunya kita berdua tidak bisa mengatakan kondisi beriman tersebut ada karena lewat iman.
Pernyataan ini tertolakkan dalam dunia ilmiah dan bertentangan dengan penalaran saya selaku manusia yang fitrah.
Seseorang memperoleh keimanannya lewat dua jalur, ada yang lewat akal dan ada yang lewat nafsu(nafsu dalam hal ini adalah persangkaan atau praduga manusia)
Jika iman diartikan percaya, maka percaya juga bisa lewat akal atau persangkaan. Misalnya apabila kita hendak melewati sebuah jembatan dari besi, tentu kita akan enteng saja melewatinya, karena persangkaan kita jembatan tersebut sudah kuat. Tetapi bila yang dilewati adalah jembatan dari kayu dan tali, paling tidak kita akan mengecek kekuatan jembatan tsb terlebih dahulu (menginjak-injak dari pinggir terlebih dahulu dsb )
Dalam berislam pun demikian, terdapat orang-orang yang mencapai iman dengan akal, dan ada yang dengan persangkaan.
Misalnya yang dengan persangkaan adalah seorang islam yang tidak mampu menjawab pertanyaan ” Mengapa kamu memilih Islam ?”, “Darimana kamu kamu tahu bahwa Islam itu benar ?”, ” jika ortumu nggak Islam kira-kira kamu Islam nggak ?”, atau bisa juga “mengapa kamu harus menjadi pengikut Ahmadiyah ?”, “Darimana kamu yakin bahwa Ahmadiyah itu benar dan bukan hal yang justru terkutuk ?” dst.
Jadi, Iman terhadap sesuatu itu tetap harus dibuktikan dulu apakah memang pengimanan tersebut sudah benar atau belum. Dan jalan untuk membuktikan kebenaran akan keimanan ini salah satunya dengan mengadakan penelaahan terhadap iman itu sendiri dengan mengadakan penyesuaian terhadap fitrah manusia.
Manusia menurut sejarah al-Qur’an telah diciptakan oleh Allah sebagai makhluk yang mulia hingga malaikat sekalipun disuruh tunduk, hormat terhadap makhluk bernama manusia ini. Manusia diciptakan berbeda dengan makhluk-makhluk lainnya, baik yang bisa dilihat secara kasat mata maupun makhluk yang tidak bisa dilihat dengan mata telanjang yang harus mempergunakan alat-alat tertentu seperti mikroskop dan sebagainya untuk melihatnya atau juga makhluk ghaib yang hanya orang-orang tertentu yang dapat melihatnya.
Keutamaan manusia yang paling sering disinggung oleh banyak orang dan bahkan juga al-Qur’an adalah dilimpahkannya anugerah akal sebagai alat untuk berpikir dan memberikan jalan baginya didalam upaya mencari kebenaran Allah, yaitu dzat yang menjadi sumber dari kebenaran itu sendiri.
Seorang manusia tidak bisa memilih, di negeri mana ia dilahirkan, dan siapa
orang tuanya. Yang ia dapatkan hanyalah kenyataan, bahwa di negerinya,
kebanyakan orang memeluk agama atau keyakinan (ideologi) tertentu, dan
orang tuanyapun mendidiknya sejak kecil dengan suatu pandangan hidup
tertentu.
Namun hampir setiap manusia yang normal ternyata memiliki suatu naluri
(instinkt), yakni suatu saat akan menanyakan, apakah keyakinan yang
dianutnya saat itu benar atau salah. Dia akan mulai membandingkan
ajaran-ajaran agama atau ideologi yang dikenalnya. Bagaimanapun juga
keberhasilan pencariannya ini sangat bergantung dari informasi yang datang
ke padanya. Kalau informasi pengganggu (noise) yang datang kepadanya
terlalu kuat, misalnya adanya teror atau propaganda yang gencar dari
pihak-pihak tertentu, bisa jadi sebelum menemukan kebenaran itu, ia sudah
berhenti pada keyakinan tertentu yang dianggapnya enak (meski sebenarnya
sesat).
MEMBANDINGKAN SUMBER AJARAN TIAP AGAMA
(
Aspek theologis)
Kebenaran suatu ajaran bisa direlatifkan dengan mudah bila hanya didasari
oleh suatu asumsi. Dan kenyataan, hampir setiap pengertian buatan manusia
adalah relatif. Para filosof mengatakan, bahwa suatu definisi hanyalah
konsensus dari beberapa orang pada saat tertentu di tempat tertentu yang
memiliki pengalaman yang mirip. Maka tak heran, bahwa untuk beberapa
pengertian yang sering kita dengar saja (seperti “demokrasi”, “hak asasi
manusia”, dll), antar bangsa (dengan latar belakang kultur yang berbeda)
dan antar generasi (dengan pengalaman sejarah yang berbeda), bisa berbeda
pula pemahamannya.
Karena itu pulalah, ada ajaran yang cepat ditelan musim. Seseorang yang
memegang ajaran seperti ini, jelas suatu saat akan goyah. Sebagai contoh
adalah kaum komunis. Usia ajaran ini ternyata tidak bertahan lebih dari
satu abad. Demikian pula dengan ajaran banyak sekte keagamaan atau aliran
kepercayaan.
Untuk menghindari ajaran yang salah, manusia pertama-tama harus melihat
sumber ajaran itu. Apakah ajaran itu bersumber dari dasar-dasar yang rapuh?
Dalam hal ini, agama-agama yang sudah cukup tua agak “mengundang” untuk
dipelajari, karena mereka menunjukkan sudah “tahan bantingan” untuk kurun
waktu yang sangat lama. Namun demikian tetap perlu dipertanyakan, akankah
ajaran-ajaran “kuno” ini mampu survive menghadapi zaman post moden dengan
kehebatan pemikirannya seperti dewasa ini?
Di zaman modern ini orang tidak bisa begitu saja “dikelabuhi”. Kita tidak
bisa begitu saja bilang: “Agama XXX ini benar, karena kitab sucinya bilang
begitu …. “. Dan: “Kitab ini benar, karena masih asli dari pembawanya.
Dan kebenaran pembawa ajaran ini dijamin di kitab itu…”.
Logika “circular” (berputar-putar) ini tidak bisa memuaskan kehausan iman
manusia modern. Suatu “teori kebenaran” hanya akan bertahan, kalau ia tidak
bisa difalsifikasi (tidak bisa dibuktikan bahwa ia salah). Hal ini karena
suatu proses falsifikasi, cukup memerlukan satu bukti. Sedang suatu proses
pembenaran, memerlukan seluruh bukti, yang tentu saja sulit, karena kita
sering tidak tahu, berapa jumlah bukti yang dibutuhkan.
Suatu ajaran bisa dianggap benar, bila ia:
* stabil intern – ajarannya harmoni, tidak bertentangan satu dengan yang
  lain.
  * stabil extern – ajarannya tidak bisa disalahkan dengan bukti-bukti
  dari luar (misalnya dengan fakta-fakta ilmu alam).
Dalam hal ini tentu saja kita harus bertolak dari ajaran yang murni (ajaran
Das Sollen), yakni yang ada di sumber-sumber ajaran itu sendiri (kitab-kita
suci), dan bukan ajaran yang sedang dipraktekkan oleh pemeluknya, yang
mungkin saja tidak mempraktekkan ajarannya dengan benar (ajaran Das Sein).
MEMBANDINGKAN ISI AJARAN TIAP AGAMA
(
Aspek ethis)
Selain mengkaji keabsahan sumber ajaran, suatu langkah pembandingan antar
ajaran adalah juga melihat seberapa jauh isi suatu ajaran mengcover
permasalahan kehidupan manusia. Apakah suatu ajaran hanya menekankan di
satu sisi saja (misalnya sisi duniawi saja, atau sisi rohani saja), ataukah
bersifat menyeluruh, baik duniawi maupun rohani?
Suatu agama yang tidak bersifat menyeluruh akan mengakibatkan dualisme
dalam pemikiran. Di satu sisi orang harus berfikir agamis, di sisi lain
orang harus memilih jalan pragmatis, yang tak jarang bertentangan dengan
fikiran agamis itu.
Mungkinkah melegitimasi ajaran suatu agama dengan agama lainnya.
Sering pemeluk suatu ajaran mencoba meligitimasi kebenaran ajarannya dengan
mengutip statement ajaran lain.
Yang perlu ditinjau adalah, sejauh mana percobaan legitimasi ini dapat
dinalar dengan logika. Memang, tidak menutup kemungkinan, bahwa suatu hal
yang baru membenarkan teori lama yang sudah ada. Penerbangan ke bulan
menambah bukti kebenaran teori bahwa bumi itu bulat. Namun bila penganut
teori lama melegitimasi diri dengan bukti-bukti baru, sementara mereka
menganggap orang yang percaya pada bukti-bukti baru itu keliru, tentu ada
yang tidak logis di sini.
Bila ada ajaran A, B, dan C, yang timbulnya di dunia urut satu demi satu,
maka A hanya bisa membenarkan B, bila penganut A nantinya harus berganti
menjadi penganut B. Inilah yang terjadi dengan ajaran Muhammad, yang sudah
diramalkan dalam Kitab Taurat dan Injil.
Hal yang sebaliknya, yaitu A membenarkan diri dengan B, namun tidak menjadi
penganut B, tentu akan janggal sekali. Karena itu, penganut agama sebelum
Islam, tidak layak membenarkan dirinya dengan menggunakan ajaran Islam,
bila mereka tidak lalu beralih menjadi muslim.
Namun ajaran yang lebih baru tidak tentu lebih benar. Karena itu, terhadap
ajaran C, bisa saja B membenarkan (dengan konsekuensi penganut B berubah
menjadi C dan meninggalkan B), atau menganggap C bagian dari B (jadi B dan
C sama-sama benar), atau C salah. Hal ini berlaku terhadap agama-agama yang
timbul setelah kenabian Muhammad. Ketika ajaran Qadiyan muncul, ada orang
Islam yang pindah menjadi Qadiyan (dan keluar dari Islam), ada yang
menganggap Qadiyan bagian dari Islam, ada pula yang menolaknya, karena
menganggap keliru.
MENGAPA ADA BANYAK AGAMA
Orang sering menganggap mudah fenomena ini dengan mengatakan: “Banyak jalan
menuju Tuhan” atau “Sungai-sungai kelihatan berbeda kalau dilihat hulunya,
namun satu kalau dilihat muaranya”. Pada prinsipnya mereka menganggap semua
agama baik dan benar, dan karena itu tidak perlu dipersoalkan.
Memang kita tidak akan debat kusir soal agama. Namun kita tentu akan
menjaga, minimal keluarga kita, agar menganut ajaran yang benar.
“Banyak jalan menuju Tuhan”. Koq tahu? Kalau dikatakan “Banyak jalan menuju
Roma” kita tentu bisa menerima, karena banyak informasi dari sana, dan
mungkin ada kawan kita sendiri yang pernah ke Roma dan pulang bercerita ke
kita. Namun kepada Tuhan? Orang-orang yang pergi menghadap Tuhan (artinya
mati), ternyata tidak pernah kembali lagi. Orang yang menghadap Tuhan dan
kembali lagi ya para nabi itu. Lagi pula toh tidak semua jalan itu lempang
dan lurus. Kalau ada banyak jalan menuju Tuhan, kenapa kita tidak memilih
jalan yang lurus, jelas dan tidak penuh duri-duri penyesat?
Demikian juga, memang agama-agama di dunia ini bisa diibaratkan dengan
sungai-sungai. Namun ternyata ada sungai yang tidak bermuara di laut, namun
di danau garam (sungai Jordan misalnya). Atau sungai-sungai itu tercemar di
perjalanan, dipakai untuk irigasi dsb, sehingga tidak pernah mencapai laut.
Ajaran-ajaran yang benar dari Tuhan memang merupakan sungai-sungai yang
mengalir ke muara yang sama. Namun ajaran-ajaran yang sesat, yang
dibuat-buat manusia, tidak akan mencapai Tuhan, karena yang dituju memang
bukan Tuhan. Di zaman modern ini banyak “agama kontemporer” semacam ini.
Ada yang memuja Mao Tse Tung, Lenin ataupun (John) Lennon. Bukankah
kapitalisme, komunisme maupun kult musik tertentu sering disebut sebagai
agama abad-20?
EVOLUSI ISLAM
Sementara itu, beberapa ajaran agama yang klasik (seperti Hindu, Budha,
Yahudi, Nasrani dll) bisa jadi memang berasal dari seorang utusan Tuhan di
zaman dulu. Kondisi dan situasi yang berbeda saat ajaran itu diturunkan,
membuat ajaran yang diperlukan juga berbeda. Sedang kebudayaan manusia
mengalami perkembangan (evolusi).
Akhirnya evolusi itu sampai pada satu titik, di mana suatu ajaran yang
bersifat universal (sesuai untuk seluruh manusia) dan komprehensif (sesuai
untuk seluruh masa) tiba saatnya. Ibarat sungai, ajaran berbagai agama yang
ada di dunia ini laksana anak-anak sungai yang mengalir ke sebuah sungai
yang besar.
Agama-agama selain Islam sesungguhnya hanya diperuntukkan untuk suatu kaum
tertentu, di daerah tertentu dan pada masa tertentu. Hal ini disebutkan
oleh kitab-kitab mereka, yang merupakan tanda-tanda dari Tuhan yang sampai
pada saat ini – di luar soal bahwa banyak kitab-kitab itu kini tidak lagi teruji autentitasnya.
source: geocities.com/Pentagon/Quarters/1246/asli.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar